Di Indonesia, terdapat banyak tarekat (thariqah) yang dianut oleh umat Islam, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren-pesantren tradisional. Tarekat merupakan jalan spiritual dalam Islam yang berfokus pada tasawuf (sufisme) untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan bimbingan seorang mursyid (guru spiritual).
Berikut adalah beberapa tarekat besar yang berkembang di Indonesia:
1. Tarekat Qadiriyah
Pendiri: Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 1166 M)
Ciri Khas:
- Menekankan dzikir dan wirid sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
- Mengajarkan kesederhanaan, kedermawanan, dan kepasrahan kepada Allah.
- Banyak dianut di Jawa, Sumatra, dan daerah lainnya.
2. Tarekat Naqsyabandiyah
Pendiri: Bahauddin Naqsyaband (w. 1389 M)
Ciri Khas:
- Mengajarkan dzikir dalam hati (dzikir khafi) selain dzikir lisan (dzikir jahr).
- Menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual.
- Banyak berkembang di Sumatra Barat, Aceh, dan Jawa.
Variasi:
- Naqsyabandiyah Khalidiyah (diperkenalkan oleh Syekh Khalid al-Baghdadi).
- Naqsyabandiyah Haqqaniyah (berkembang di Turki dan memiliki pengikut di Indonesia).
3. Tarekat Syattariyah
Pendiri: Syekh Abdullah asy-Syattari (abad ke-15 M)
Ciri Khas:
- Memadukan unsur tarekat dan ilmu hikmah.
- Menekankan pada pengalaman spiritual dan dzikir tertentu.
- Berkembang di Minangkabau, Aceh, dan Jawa.
4. Tarekat Tijaniyah
Pendiri: Syekh Ahmad at-Tijani (w. 1815 M)
Ciri Khas:
- Memiliki sistem dzikir khusus seperti istighfar, shalawat, dan tahlil yang diajarkan langsung oleh Nabi dalam mimpi sang pendiri.
- Berbeda dari tarekat lain karena tidak mewajibkan murid berbaiat kepada guru mursyid, tetapi langsung kepada ajaran tarekat.
- Banyak berkembang di Afrika Utara dan memiliki pengikut di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra.
5. Tarekat Sammaniyah
Pendiri: Syekh Muhammad Samman al-Madani (w. 1775 M)
Ciri Khas:
- Banyak berkembang di Indonesia sejak abad ke-18 M.
- Mengajarkan dzikir jahr dan pembacaan wirid secara bersama-sama.
- Populer di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
6. Tarekat Khalwatiyah
Pendiri: Syekh Umar al-Khalwati (abad ke-14 M)
Ciri Khas:
- Memusatkan ajaran pada uzlah (menyepi untuk beribadah).
- Mempraktikkan dzikir yang lebih individualistik dan fokus pada meditasi spiritual.
- Berkembang di Sulawesi Selatan dan Kalimantan.
Variasi:
- Khalwatiyah Yusufiyah (diajarkan oleh Syekh Yusuf al-Makassari).
- Khalwatiyah Sammmaniyah (gabungan Khalwatiyah dan Sammaniyah).
7. Tarekat Idrisiyah
Pendiri: Syekh Ahmad bin Idris (w. 1837 M)
Ciri Khas:
- Lebih fleksibel dalam dzikir dan tidak terlalu terikat dengan satu bentuk ritual tertentu.
- Berkembang di berbagai daerah di Indonesia, terutama di pesantren dan majelis dzikir.
8. Tarekat Rifa’iyah
Pendiri: Syekh Ahmad ar-Rifa’i (w. 1182 M)
Ciri Khas:
- Mengajarkan dzikir keras, wirid, dan pembacaan Al-Qur'an dengan suara lantang.
- Berkembang di berbagai daerah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
- Beberapa pengikutnya dikenal dengan atraksi kebal senjata dalam zikir.
9. Tarekat Alawiyah (Ba'Alawi)
Pendiri: Sayyid Ahmad al-Muhajir (keturunan Nabi dari Hadramaut, abad ke-10 M)
Ciri Khas:
- Diajarkan oleh para habib dari kalangan keturunan Rasulullah (Ahlul Bait).
- Mengutamakan dzikir, shalawat, dan tasawuf praktis.
- Berkembang di kalangan habaib dan santri di Indonesia, terutama di daerah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
10. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)
Pendiri: Syekh Ahmad Khatib Sambas (w. 1875 M, Indonesia)
Ciri Khas:
- Gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
- Mengutamakan dzikir jahr dan dzikir khafi dalam satu sistem tarekat.
- Banyak berkembang di pesantren NU dan majelis dzikir di Indonesia.
Kesimpulan
Tarekat-tarekat di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing, tetapi secara umum semuanya mengajarkan tasawuf, dzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bimbingan seorang mursyid. Tarekat seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, Tijaniyah, dan Khalwatiyah adalah yang paling banyak dianut di Indonesia.
Sebagian besar tarekat ini memiliki hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan berkembang di pesantren-pesantren tradisional. Tarekat juga memainkan peran dalam perjuangan Islam, sosial, dan kebangsaan, termasuk dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
0Komentar