Paling mudah melacak periode awal kelahiran terminologi (istilah) ahlussunnah wal jama’ah ialah sejarah aswaja yang dimulai dari lahirnya madzhab kalam (tauhid) al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Tetapi kelahiran madzhab ahlussunnah wal jama’ah dibidang kalam ini tidak dapat dipisahkan dengan mata rantai sebelumnya, yakni di dimulai dari periode ‘Ali bin Abi Thalib KW. Sebab dalam sejarah, tercatat para imam ahlussunnah wal jama’ah dibidang akidah telah ada sejak zaman para sahabat Nabi SAW, sebelum munculnya paham Mu'tazilah. Imam aswaja pada saat itu diantaranya adalah 'Ali bin Abi Thalib KW, karena jasanya menentang pendapat Khawarij tentang al-Wa'du wa al-Wa'id dan pendapat Qodariyah tentang kehendak Allah SWT dan daya manusia. Dimasa tabi'in juga tercatat ada beberapa imam ahlussunnah wal jama’ah, mereka bahkan menulis beberapa kitab untuk mejelaskan tentang paham ahlussunnah wal jama’ah, seperti ‘Umar bin ‘Abdul 'Aziz dengan karyanya "Risalah Balighah fi Raddi 'ala al-Qodariyah".
Para mujtahid fiqh juga turut menyumbang
beberapa karya teologi (tauhid) untuk menentang paham-paham diluar ahlussunnah
wal jama’ah, seperti Abu Hanifah dengan kitabnya "Al-Fiqhu
al-Akbar", dan Imam Syafi'i dengan kitabnya "Fi Tashhihi al-Nubuwwah
wa al-Raddi 'ala al-Barohimah".
Imam dalam teologi ahlussunnah wal jama’ah
sesudah itu kemudian diwakili oleh Abu Hasan al-Asy'ari, lantaran
keberhasilannya menjatuhkan paham Mu'tazilah. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa rumusan akidah ahlussunnah wal jama’ah secara substantif telah ada sejak
masa para sahabat Nabi SAW. Artinya, paham ahlussunnah wal jama’ah tidak mutlak
seperti yang dirumuskan oleh Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, tetapi beliau
adalah dua diantara imam-imam yang telah berhasil menyusun dan merumuskan ulang
doktrin paham akidah ahlussunnah wal jama’ah secara sistematis sehingga menjadi
pedoman akidah ahlussunnah wal jama’ah.
Dalam aspek nama, terminologi ahlussunnah wal
jama’ah berawal dari tafsir Imam Abdullah bin Abbas RA, salah satu mufassir
dari generasi sahabat ketika menafsirkan firman Allah SWT :
يَوْمَ
تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
“ Pada
hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang
hitam muram. “. QS. Ali Imron:106
Beliau
berkata: yakni pada hari kiamat ketika menjadi putih berseri wajah kelompok
ahlussunnah wal jama’ah dan hitam muram wajah para kelompok bid’ah “. [1]
Dengan
demikian istilah ahlussunnah wal jama’ah baru di kenal pada masa Abdullah bin
Abbas RA. Istilah ahlussunnah wal jama’ah dimaksudkan untuk membedakan dengan
kelompok Islam yang saat itu menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW dan
sahabatnya yaitu kelompok Rowafidl dan Khowarij.
Pada saat
muncul kelompok sesat Rowafidl dan Khowarij, Abdullah bin Abbas RA menyerukan
kepada umat Islam untuk kembali kepada ajaran Rasulullah SAW yang diteruskan
oleh para sahabat, kelompok yang senantiasa berpegang teguh kepada ajaran
Rasululah SAW dan sahabatnya selanjutnya di sebut dengan golongan ahlussunnah
wal jama’ah untuk membedakan dengan dua kelompok lainnya yaitu Rofidloh dan
Khowarij yang telah jauh menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW dan para
sahabatnya.
Dalam perkembangan sejarah selanjutnya,
istilah ahlussunnah wal jama’ah secara resmi menjadi bagian dari disiplin ilmu
ke-Islaman. Dalam hal akidah pengertiannya adalah Asy’ariyah atau Maturidiyah.
Imam Ibnu Hajar al-Haytami (909 H – 973
H/1504 M – 1566 M) berkata: Jika ahlussunnah wal jama'ah di sebutkan, maka
yang di maksud adalah pengikut rumusan yang di gagas oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari
dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.[2]
Dalam fiqh adalah pengikut madzhab, Imam Abu Hanifah (80 H – 150 H/699 M – 767
M), Imam Malik bin Anas (93 H – 179 H/711 M – 795 M), Imam Muhammad bin Idris
al-Syafi'I (150 H – 204 H/767 M – 820 M), dan Imam Ahmad bin Hanbal (164 H –
241 H/855 M -780 M). Dalam Tasawuf adalah Imam al-Ghozali, Abu Yazid
al-Bisthomi, Imam Junaid al-Baghdadi dan ulama-ulama lain yang sepaham. Semuanya
menjadi diskursus Islam paham ahlussunnah wal jama'ah.
0Komentar