GfG5BUOlGSMpTpM5TUM7Gfr7BA==
Light Dark
Islam Kejawen: Perpaduan Islam dan Tradisi Jawa

Islam Kejawen: Perpaduan Islam dan Tradisi Jawa

Daftar Isi
×


Islam Kejawen adalah praktik keagamaan yang menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi dan budaya Jawa. Aliran ini berkembang terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, serta masih memiliki pengikut hingga saat ini.  

1. Asal-Usul Islam Kejawen  

Islam masuk ke Jawa sekitar abad ke-13 melalui para pedagang dan ulama dari Arab, Persia, dan Gujarat (India). Ketika Islam menyebar, ajaran Islam beradaptasi dengan budaya lokal yang sebelumnya dipengaruhi oleh Hindu-Buddha dan animisme.  

Para Wali Songo memainkan peran penting dalam mengislamkan masyarakat Jawa dengan pendekatan budaya, seperti wayang, gamelan, dan seni sastra. Hal ini menyebabkan Islam di Jawa memiliki warna khas yang dikenal sebagai Islam Kejawen.  

2. Ciri-Ciri Islam Kejawen  

Islam Kejawen memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari Islam yang lebih skripturalis atau ortodoks:  

a. Sinkretisme (Perpaduan Agama & Budaya)  
- Islam Kejawen mencampurkan ajaran Islam dengan unsur Hindu, Buddha, dan kepercayaan animisme.  
- Contoh: Ritual selamatan (kenduri) yang memiliki unsur Islam, tetapi masih mempertahankan nilai-nilai tradisional Jawa.  
b. Kepercayaan terhadap Leluhur dan Gaib  
- Masyarakat Islam Kejawen masih menghormati roh leluhur dengan ziarah kubur dan meminta berkah (nyadran).  
- Beberapa tempat dianggap memiliki kekuatan spiritual, seperti Gunung Lawu atau Pantai Selatan.  

c. Penggunaan Simbol dan Tradisi Jawa  
- Islam Kejawen mengadaptasi simbol dan seni Jawa, seperti wayang, tembang, dan gamelan, untuk menyebarkan ajaran Islam.  
- Beberapa ritual masih mempertahankan unsur Hindu-Buddha, seperti slametan dan ruwatan.  

d. Konsep Manunggaling Kawula Gusti  
- Dalam Islam Kejawen, ada konsep mistik bahwa manusia bisa menyatu dengan Tuhan (*Manunggaling Kawula Gusti*).  
- Konsep ini mirip dengan ajaran tasawuf dalam Islam, tetapi juga memiliki kemiripan dengan Hindu dan Buddha.  


3. Jenis-Jenis Islam Kejawen  

Islam Kejawen tidak seragam, ada beberapa aliran dengan pemahaman yang berbeda:  

a. Abangan  
- Kelompok yang lebih menekankan budaya dan tradisi Jawa daripada syariat Islam.  
- Biasanya tidak terlalu ketat dalam menjalankan ibadah seperti salat lima waktu.  
- Dipopulerkan oleh sosiolog Clifford Geertz dalam bukunya *The Religion of Java*.  

b. Santri Kejawen  
- Tetap menjalankan rukun Islam tetapi masih mempertahankan ritual-ritual adat Jawa.  
- Biasanya ditemukan di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren yang masih menjaga budaya Jawa.  

c. Aliran Kebatinan  
- Lebih menekankan spiritualitas dan hubungan pribadi dengan Tuhan tanpa harus terikat syariat.  
- Beberapa aliran terkenal: Kejawen Sapta Dharma, Sumarah, Subud, dan Paguyuban Satria Piningit.  

4. Ritual dan Tradisi Islam Kejawen  

Islam Kejawen memiliki berbagai ritual khas yang masih dipraktikkan hingga kini:  

- Tahlilan & Kenduri → Doa bersama untuk arwah leluhur.  
- Nyadran → Ziarah kubur sebelum Ramadan, mirip dengan tradisi Hindu.  
- Slametan → Syukuran dengan doa dan makan bersama.  
- Mubeng Beteng → Ritual mengelilingi Keraton Yogyakarta saat malam 1 Suro.  
- Grebeg Maulud → Perayaan Maulid Nabi dengan kirab budaya di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.  
- Ruwatan → Ritual untuk membuang sial atau energi negatif.  

5. Sikap Islam Ortodoks terhadap Islam Kejawen  

Kelompok Islam yang lebih skripturalis, seperti Salafi, Wahabi, dan Muhammadiyah, sering mengkritik Islam Kejawen karena dianggap penuh bid'ah (inovasi dalam agama) dan syirik (kemusyrikan).  

Namun, organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) lebih fleksibel dan menerima Islam Kejawen sebagai bagian dari Islam Nusantara, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam.  


6. Islam Kejawen di Era Modern  

Meskipun banyak orang Jawa kini lebih memilih Islam murni, praktik Islam Kejawen masih bertahan, terutama di daerah pedesaan. Namun, ada beberapa perubahan:  

- Kebatinan mulai berkurang → Generasi muda lebih memilih Islam yang berbasis Al-Qur'an dan Hadis.  
- Tradisi tetap lestari → Slametan dan nyadran masih dilakukan, tetapi lebih bernuansa Islam.  
- Pengaruh Islam global → Internet dan dakwah Salafi membuat sebagian masyarakat beralih ke Islam yang lebih skripturalis.  

Kesimpulan  

1. Islam Kejawen adalah perpaduan Islam dengan budaya Jawa, berkembang sejak zaman Wali Songo.  
2. Ciri khasnya adalah sinkretisme, kepercayaan terhadap leluhur, dan konsep mistik Jawa.  
3. Masih dipraktikkan dalam bentuk ritual seperti slametan, nyadran, dan ruwatan.  
4. Dikritik oleh kelompok Islam ortodoks tetapi tetap lestari di kalangan santri tradisional dan masyarakat Jawa pedesaan.  

Islam Kejawen adalah salah satu wajah Islam di Indonesia yang menunjukkan bagaimana agama bisa beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya.

0Komentar