GfG5BUOlGSMpTpM5TUM7Gfr7BA==
Light Dark
Dari tentang menghormati dan mencinati keturunan Rasulullah SAW (Habaib)

Dari tentang menghormati dan mencinati keturunan Rasulullah SAW (Habaib)

Daftar Isi
×


Para ulama Nahdlatul Ulama sejak dahulu selalu menekankan untuk mencintai dan menghormati keturunan Rasulullah SAW (Habaib). Apakah ada dalilnya?

Ada banyak sekali dalil yang menyatakan keutamaan keluarga Rasulullah SAW (ahlu bait). Imam Jalaluddin Abd. Rohman bin Abu Bakar al-Suyuthi (849 H – 911 H/1445 M – 1505 M) menulis kitab dengan judul “Ihya'u al-Mayyit bi Fadloil Ahli al-Bayt”  yang isinya khusus memuat beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan keluarga dan keturunan Rasulullah SAW. Diantaranya adalah sebagai berikut:

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ, مَنْ رَكِبَهَا نَجَا, وَمَنْ تَرَكَهَا غَرِقَ. رواه الطبراني

"Dari Ibnu ‘Abbas RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan ahli baitku, seperti bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang barada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." HR. Al-Thobroni

 

عَنْ زَيْدٍ ابْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِيْ: كِتَابَ اللهِ, وَعِتْرَتِيْ أَهْلَ بَيْتِيْ. رواه الترمذي والحاكم

 

"Dari Zayd bin Arqom RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Aku meninggalkan sesuatu pada kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan keturunanku." . HR.Al-Turmudzi.

 

 

 

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى مَنْ آذَانِي فِي عِتْرَتِي. رواه الطبراني.

 

"Dari Sa’id RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah sangat murka atas orang yang menyakitiku didalam keturunanku.” HR. Al-Thobroni.

 

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَفَاعَتِي لِأُمَّتِي, مَنْ أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتِي. 

Dari 'Ali KW berkata: Rasulullah SAW bersabda: Syafa'atku untuk ummatku yang mencintai ahli baitku”.

 

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَدِّبُوا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ: حُبِّ نَبِيِّكُمْ, وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ, وَعَلَى قِرَاءَةِ القُرْآنِ. رواه أبو النصر .  

"Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitku, dan membaca al-qur'an.”.  HR. Abu al-Nashr.  

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, dan Al-Thobroni. Ketika turun ayat:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى.

 

"Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". QS. As-Syura:23.

Ibnu ‘Abbas RA bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah! Siapakah yang dimaksud kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: ‘Ali, Fathimah, dan anak keturunannya.

 

Inilah sebagian dalil dari hadits Rasulullah SAW yang secara jelas menyatakan keutamaan keluarga dan keturunan Rasulullah SAW serta perintah untuk menghormati keluarga dan keturunannya.

Oleh karena itu, salah satu dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah menekankan pentingnya menanamkan rasa cinta dan menghormati kepada keturunan Rasulullah SAW. Ajaran ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan oleh para ulama dan diajarkan dari generasi kepada generasi berikutnya.

Namun, yang dimaksud dengan menghormati atau mencintai keturunan Rasulullah SAW adalah menempatkan mereka sebagai orang yang patut dihormati sebagai keturunan Rasulullah SAW makhluq Allah SWT yang paling mulia dengan penghormatan yang proporsional, tidak berlebihan sampai pada sikap mengkultuskan dan merendahkan sahabat yang lain sebagaimana dalam ajaran  golongan Syi’ah. 

Diantara contoh bagaimana para ulama dahulu menghormati keturunan Raulullah SAW adalah cerita berikut ini:

Sayyid ‘Abdul Hayyi al-Kattani (1302 H – 1382 H/1884 M -1962 M) menceritakan: Sesungguhnya Al-‘Allamah al-Sanhuti bertanya kepada Syekh Al-'Alqomi: "Bagaimana kamu mengambil (riwayat) kitab "Al-Jami’" (kitab kumpulan hadits) dari pengarangnya sendiri (Imam Al-Suyuthi)?" Beliau menjawab: "Aku berangkat bersama Sayyid Al-Syarif (sebutan untuk keturunan Rasulullah SAW) Yusuf al-Armiyuni menuju ke "Raudloh" - kediaman Imam Suyuthi- lalu aku ketuk pintunya. Jika aku bersama Sayyid Yusuf, maka beliau membukakan pintunya, jika tidak, maka tidak dibuka pintunya, kemudian Sayyid Yusuf yang membaca dan kami (al-'Alqomi dan Imam Suyuthi) mendengarkannya". Selanjutnya Al-Kattani memberi komentar: "Seakan-akan Imam Suyuthi tidak menganggap harus keluar untuk menemui para tamu yang datang kepadanya sebagai kewajiban, akan tetapi jika diantara mereka ada cucu Rasulullah SAW, beliau merasa harus keluar menemuinya, dan dianggapnya lebih utama dari pada menyendiri yang seharusnya beliau lakukan".[1]

Demikian juga dengan Imam Syafi’i, beliau dikenal sangat menghormati dan mencintai keturunan Rasulullah SAW. Beliau juga menjalin hubungan dengan para keturunan Rasulullah SAW. Salah satunya dengan Syarifah Nafisah binti al-Hasan (145 H – 208 H/ 762 M – 823 M) seorang wanita salehah, kekasih Allah SWT, keturunan Rasulullah SAW. Ketika Imam Syafi’i di Mesir, belaiu berguru kepadanya. Apabila Imam Syafi’i sakit, biasanya beliau mengutus muridnya yaitu Al-Robi’ bin Sulaiman al-Murodi (174 H – 270 H/790 M – 820 M) untuk mendatangi Sayrifah Nafisah memohon do’a kesembuhan, dan do’anya selalu terkabul.[2]

Begitu dekatnya hibungan Imam Syafi’i dengan keturunan Rasulullah SAW sampai beliau mendapat fitnah dengan dituduh sebagai penganut paham Rofidloh/Syi’ah. Menyikapi hal ini, beliau menjawab dengan sya’ir :

 

إِنْ كَانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ   فَلْيَشْهَدْ الثَّقَلاَنِ أَنِّي رَافِضِيٌّ

 

"Jika yang dimaksud dengan golongan Rofidloh hanya semata-mata mereka yang mencintai keluarga Muhammad SAW, maka saksikan wahai bumi dan langit, bahwa aku adalah termasuk dari golongan Rofidloh."

 

Dalam sya'ir yang lain beliau berkata:

 

يَا أَهْلَ بَيْتِ رَسُولِ اللهِ حُبُّكُمْ   فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِي القُرْآنِ أَنْزَلَهْ

كَفَاكُمْ مِنْ عَظِيْمِ  الْقَدْرِ  أَنَّكُمْ  مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لاَصَلاَةَ لَهْ

 

"Wahai ahlu bait Rasulullah! Mencintaimu adalah kewajiban dari Allah didalam al-qur'an yang telah diturunkan, cukup -menjadi bukti- atas keluhuran derajat kalian, bahwa susungguhnya orang yang tidak bershalawat kepadamu maka shalatnya tidak sah”. [3]

 



[1] Sayyid 'Abbas bin Ahmad al-Husaini , Muqoddimah Ihya'u al-Mayyit bi Fadloil Ahli al-Bayt hlm.8.

[2] Afifudin Abdulloh bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki. Mir’atu al-Jinan, juz 2 hlm.32

[3] Hukum wajibnya membaca shalawat kepada keluarga Nabi adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan juga pendapat yang dikutip dari Imam Syafi'i dan Abu Ishaq al-Marwazi. Lihat. Is'adu ar-Rofiq juz 2 hlm. 24. Dalam sebuah hadits dinyatakan yang artinya kurang lebih: "Do'a akan terhalangi (tidak terkabul) kecuali disertai dengan shalawat kepada Nabi SAW dan ahlu baitnya". HR.Al-Dailami.

0Komentar