عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ
أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ, مَنْ رَكِبَهَا نَجَا, وَمَنْ تَرَكَهَا
غَرِقَ. رواه الطبراني
"Dari Ibnu ‘Abbas RA berkata:
Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan ahli baitku, seperti bahtera Nabi
Nuh. Barangsiapa yang barada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya
akan tenggelam." HR. Al-Thobroni
عَنْ زَيْدٍ ابْنِ
أَرْقَمَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِيْ:
كِتَابَ اللهِ, وَعِتْرَتِيْ أَهْلَ بَيْتِيْ. رواه الترمذي والحاكم
"Dari Zayd bin Arqom RA berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Aku meninggalkan sesuatu pada kalian yang apabila
kalian pegang teguh tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan
keturunanku." . HR.Al-Turmudzi.
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِشْتَدَّ
غَضَبُ اللهِ عَلَى مَنْ آذَانِي فِي عِتْرَتِي. رواه الطبراني.
"Dari Sa’id RA berkata: Rasulullah SAW
bersabda: Allah sangat murka atas orang yang menyakitiku didalam keturunanku.” HR. Al-Thobroni.
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَفَاعَتِي
لِأُمَّتِي, مَنْ أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتِي.
Dari
'Ali KW berkata: Rasulullah SAW bersabda: Syafa'atku untuk ummatku yang
mencintai ahli baitku”.
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَدِّبُوا
أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ: حُبِّ نَبِيِّكُمْ, وَحُبِّ أَهْلِ
بَيْتِهِ, وَعَلَى قِرَاءَةِ القُرْآنِ. رواه أبو النصر .
"Didiklah anak-anak kalian atas tiga
hal. Mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitku, dan membaca al-qur'an.”. HR. Abu al-Nashr.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim,
Ibnu Mardawaih, dan Al-Thobroni. Ketika turun ayat:
قُلْ
لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى.
"Katakanlah: "Aku tidak meminta
kepadamu sesuatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam
kekeluargaan". QS. As-Syura:23.
Ibnu ‘Abbas RA bertanya kepada Rasulullah SAW:
Wahai Rasulullah! Siapakah yang dimaksud kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah
SAW menjawab: ‘Ali, Fathimah, dan anak keturunannya.
Inilah sebagian dalil dari hadits Rasulullah
SAW yang secara jelas menyatakan keutamaan keluarga dan keturunan Rasulullah
SAW serta perintah untuk menghormati keluarga dan keturunannya.
Oleh karena itu, salah satu dari ajaran
ahlussunnah wal jama’ah menekankan pentingnya menanamkan rasa cinta dan
menghormati kepada keturunan Rasulullah SAW. Ajaran ini sudah menjadi tradisi
yang dijalankan oleh para ulama dan diajarkan dari generasi kepada generasi
berikutnya.
Namun, yang dimaksud dengan menghormati atau
mencintai keturunan Rasulullah SAW adalah menempatkan mereka sebagai orang yang
patut dihormati sebagai keturunan Rasulullah SAW makhluq Allah SWT yang paling
mulia dengan penghormatan yang proporsional, tidak berlebihan sampai pada sikap
mengkultuskan dan merendahkan sahabat yang lain sebagaimana dalam ajaran golongan Syi’ah.
Diantara
contoh bagaimana para ulama dahulu menghormati keturunan Raulullah SAW adalah
cerita berikut ini:
Sayyid ‘Abdul Hayyi al-Kattani (1302 H – 1382
H/1884 M
Demikian juga dengan Imam Syafi’i, beliau dikenal
sangat menghormati dan mencintai keturunan Rasulullah SAW. Beliau juga menjalin
hubungan dengan para keturunan Rasulullah SAW. Salah satunya dengan Syarifah
Nafisah binti al-Hasan (145 H – 208 H/ 762 M – 823 M) seorang wanita salehah,
kekasih Allah SWT, keturunan Rasulullah SAW. Ketika Imam Syafi’i di Mesir,
belaiu berguru kepadanya. Apabila Imam Syafi’i sakit, biasanya beliau mengutus
muridnya yaitu Al-Robi’ bin Sulaiman al-Murodi (174 H – 270 H/790 M – 820 M)
untuk mendatangi Sayrifah Nafisah memohon do’a kesembuhan, dan do’anya selalu
terkabul.[2]
Begitu dekatnya hibungan Imam Syafi’i dengan
keturunan Rasulullah SAW sampai beliau mendapat fitnah dengan dituduh sebagai
penganut paham Rofidloh/Syi’ah. Menyikapi hal ini, beliau menjawab dengan
sya’ir :
إِنْ كَانَ رَفْضًا حُبُّ
آلِ مُحَمَّدٍ فَلْيَشْهَدْ الثَّقَلاَنِ
أَنِّي رَافِضِيٌّ
"Jika yang dimaksud dengan golongan
Rofidloh hanya semata-mata mereka yang mencintai keluarga Muhammad SAW, maka
saksikan wahai bumi dan langit, bahwa aku adalah termasuk dari golongan
Rofidloh."
Dalam sya'ir yang lain beliau berkata:
يَا أَهْلَ بَيْتِ رَسُولِ
اللهِ حُبُّكُمْ فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِي
القُرْآنِ أَنْزَلَهْ
كَفَاكُمْ مِنْ عَظِيْمِ الْقَدْرِ
أَنَّكُمْ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ
لاَصَلاَةَ لَهْ
"Wahai ahlu bait Rasulullah! Mencintaimu
adalah kewajiban dari Allah didalam al-qur'an yang telah diturunkan, cukup -menjadi
bukti- atas keluhuran derajat kalian, bahwa susungguhnya orang yang tidak
bershalawat kepadamu maka shalatnya tidak sah”. [3]
[1] Sayyid 'Abbas bin Ahmad al-Husaini , Muqoddimah Ihya'u al-Mayyit
bi Fadloil Ahli al-Bayt hlm.8.
[2] Afifudin Abdulloh bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki. Mir’atu
al-Jinan, juz 2 hlm.32
[3] Hukum wajibnya membaca shalawat kepada keluarga Nabi adalah
pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan juga pendapat yang dikutip dari Imam Syafi'i
dan Abu Ishaq al-Marwazi. Lihat. Is'adu ar-Rofiq juz 2 hlm. 24. Dalam sebuah hadits
dinyatakan yang artinya kurang lebih: "Do'a akan terhalangi (tidak
terkabul) kecuali disertai dengan shalawat kepada Nabi SAW dan ahlu baitnya".
HR.Al-Dailami.
0Komentar